Si Kecil Mengajariku Menjadi Pemaaf

https://www.pngdownload.id/png-7zwray/

Pernahkah kita melihat anak anak kecil di sekolah, di rumah atau disekitar kita berebut mainan, kejar kejaran lalu berantam lalu ujung ujungnya menangis? , tentu semua kita mungkin pernah menyaksikan bukan?. Namun, tidak sampai hitungan hari apalagi pekan mereka main bersama kembali seolah tidak ada hal yang terjadi. Sungguh bagus dan terkendalinya emosi mereka.

Kejadian dan pemandangan ini sering berulang menjadi pemandangan yang biasa terjadi di lingkungan kita. Namun apakah kita ada mengambil ibroh dari itu?, atau apakah itu menjadi tontonan biasa biasa saja?, tentu setiap kejadian terkadang ada nilai positif yang dapat diambil darinya. 

Anak kecil, mereka tak punya dendam lama, mereka tidak mengingat kejadian yang menyakiti dirinya untuk berlama-lama. Bagaimana mana dengan kita orang dewasa, kesalahan saudara kita terus kita ingat, kita simpan dalam hati, kita sampaikan ke orang lain berulang kali, bahkan ampai mengatakan tidak ada kata maaf, sampai mati tidak ada maaf baginya, Allahu Akbar.

Suami istri saling mengungkit kesalahan seolah tak ada lagi kebaikan, Saudara kandung tak lagi dihubungi apalagi dikunjungi, tetangga tidak lagi ditegur karena masalah sepele, jamaah satu dengan yang satu tak lagi mengucapkan salam apalagi berjabat tangan, bahkan harus pindah tempat shalat karena ada khilaf ringan yang saling memaksakan. Masih banyak contoh contoh yang sering kita jumpai.

Saudaraku, kalau kita mengaku muslim, mengaku mengikuti petunjuk Rasul tercinta mengapa hati kita amatlah keras untuk tidak memaafkan, mengapa kita menjadi orang yang pendendam, dan mengapa kita tidak saling memaafkan. Bukankah kita dianjurkan dalam Al Qur'an surat Ali Imran 133-134,  Allah mengingatkan kita dan menyediakan surga untuk orang bertaqwa dan cirinya salah satunya adalah Pemaaf. 
Sebagaimana firman-nya; 

( 133 ) Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
( 134 ) (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Hati yang keras, egois bisa belajar dari si kecil untuk selalu memaafkan sesama.

Demikian 


Postingan populer dari blog ini

Menjadi Manusia Yang Bermanfaat

Masjid Al Ittihad

kursi roda yang setia